
Pentigraf
KEPALSUAN
Daswatia/Telly D
Di ruang keluarga, televisi memantulkan riuh sidang DPR: kursi diangkat, melayang seperti benda liar yang kehilangan fungsinya. Cucu kecil saya ternganga, matanya menatap tajam seolah bertanya apa arti semua ini. Saya pun menunduk kepadanya, berkata lirih, komunikasi itu bukan dengan tangan atau kursi, melainkan dengan mulut dan hati. Melempar kursi, hanyalah tanda gagalnya sebuah percakapan.
Namun waktu berjalan, dan layar gawai kini lebih gaduh dari televisi. Setiap hari, perdebatan tentang ijazah palsu berputar di media sosial: orang saling memaki, menuding, menjerit tanpa jeda, tidak ada yang mau mendengar. Kata-kata kehilangan makna, berubah jadi peluru yang melukai harga diri. Anak kecil itu, dengan polosnya, bertanya lagi kenapa orang dewasa bisa begitu mudah kehilangan bahasa.
Saya terdiam lama, menatap wajahnya yang bersih dari dusta. Lalu saya menjawab dengan suara tercekat: “Nak, kalau orang sudah cerita kepalsuan, maka kata-katanya pun bisa palsu. Dan bila kata-kata sudah palsu, maka kursi dan teriakan hanya tinggal tanda bahwa hati mereka telah gagal belajar.”
Makassar, 2025


Leave a comment