Jalan Sunyi Menuju Makna Hidup

Ilustrasi (Gambar dibuat dengan AI)

Berikut adalah tulisan karya Telly D. yang Admin salin dari grup RVL (Rumah Virus Literasi)

Di Antara Riuh dan Sunyi: Jalan yang Dikenal Langit

Oleh: Telly D.

Di suatu pagi, saya pernah berdiri di tepi jalan yang bising. Klakson bersahutan, suara pedagang berkejaran dengan notifikasi ponsel, manusia berjalan seperti dikejar waktu. Dunia tampak seperti pasar tanpa jeda: ramai, gemerlap, penuh janji. Semua ingin terlihat, semua ingin diakui. Seolah hidup baru sah disebut berhasil jika disaksikan banyak mata. Namun di tengah riuh itu, saya justru teringat satu kalimat sunyi dari langit: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada.” Dan sejak saat itu, saya mulai bertanya untuk siapa sebenarnya semua keramaian ini kita bangun?

Keramaian hari ini sering menyerupai panggung besar. Media sosial mencatat jutaan unggahan setiap menit. Manusia berlomba menjadi tokoh utama dalam cerita yang kadang tak mereka pahami maknanya. Padahal Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa amal tergantung niatnya. Ramai tanpa niat yang lurus hanyalah debu yang beterbangan di bawah sorot lampu. Terlihat banyak, tetapi ringan di timbangan akhirat.

Saya teringat seorang bapak tua di musala kampung. Setiap subuh, sebelum azan berkumandang, ia sudah datang lebih dulu. Menyapu lantai, merapikan sajadah, mengisi tempat wudu. Tak ada yang memotretnya. Tak ada yang memujinya. Namun dari tangannya, rumah Allah terjaga. Ia seperti malaikat tanpa sayap, bekerja dalam diam. Mungkin namanya tak dikenal manusia, tetapi sangat akrab dalam catatan langit.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menyukai hamba yang berdoa dengan suara lembut, tidak berlebihan, tidak pamer. Ibadah yang paling dalam sering lahir dari kesunyian: tahajud saat dunia terlelap, sedekah yang tak diketahui tangan kiri, air mata yang jatuh tanpa saksi. Di sanalah iman tumbuh seperti benih di bawah tanah tak terlihat, tetapi kelak menjadi pohon yang rindang.

Sejarah iman pun dipenuhi kisah sunyi. Imam Bukhari menulis ribuan hadis dalam keterbatasan, sering kelaparan, sering sendirian. Ibunda beliau mendoakan dalam sepi hingga penglihatannya pulih. Para ulama, para wali, para orang saleh banyak dari mereka berjalan jauh dari sorotan. Mereka memilih gelap dunia agar terang di akhirat.

Sebaliknya, tak sedikit yang hidup dalam gemuruh popularitas, tetapi miskin makna. Dikenal manusia, dilupakan Tuhan. Dipuja di bumi, ringan di langit. Seperti buih di laut: ramai di permukaan, hilang saat ombak datang. Padahal Allah telah mengingatkan, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan perhiasan yang sementara.

Yang ramai sering menjanjikan tepuk tangan cepat. Yang sepi menawarkan pahala yang panjang. Yang ramai seperti kembang api meledak sebentar lalu gelap. Yang sepi seperti pelita kecil, tetapi setia menerangi malam.

Dalam kesabaran seorang ibu yang mendoakan anaknya tanpa henti, dalam keringat petani yang tetap jujur meski bisa curang, dalam guru yang mengajar tanpa pamrih, di sanalah ibadah hidup berlangsung. Mereka shalat dengan tindakan, berzikir dengan pengabdian, bersedekah dengan kesetiaan.

Saya belajar bahwa Allah tidak menilai seberapa banyak mata yang melihat kita, tetapi seberapa jujur hati kita kepada-Nya. Bukan seberapa sering nama kita disebut, tetapi seberapa sering nama-Nya kita ingat. Kadang, memilih jalan sepi adalah bentuk tertinggi dari tawakal: berjalan tanpa sorak, tetapi penuh keyakinan.

Kini, ketika dunia kembali memanggil dengan riuhnya, saya mencoba menundukkan telinga dan meninggikan hati. Mendengar bisikan iman di balik kebisingan. Sebab tidak semua yang ramai layak diperjuangkan, dan tidak semua yang sepi kekurangan nilai.

Ada amal yang hanya tumbuh di kebun kesendirian. Ada doa yang hanya sampai ke langit karena tak pernah dipamerkan. Ada hidup yang mungkin tampak kecil di mata manusia, tetapi besar di hadapan Tuhan.

Dan barangkali, di sanalah hakikat sukses sejati berada: pulang kepada Allah dengan hati yang utuh, langkah yang jujur, dan amal yang tumbuh dalam sunyi tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, hanya ridha-Nya sebagai tujuan akhir.

Mks, Januari 2026

Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika,  Pemerhati Pendidikan, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Dinding, Cermin dan Pintu” 81 Pentigraf Luka yang Diam dan Cinta yang Bertahan (2026).

Leave a comment

Saya, PakDSus

Selamat datang di laman Guru Pecinta Literasi Musi Rawas, wadah komunikasi, kreativitas literasi para pendidik lintas jenjang dan mata pelajaran.

Mari terhubung dengan: