GURUPECINTALITERASI.COM – Salam literasi! Admin mohon maaf, agak terlambat mengunggah tulisan karya bu Yuli berikut ini.
Sobat GPLM, kembali bu Yuli mengirimkan tulisannya yang ke-16. Wow, luar biasa. Beliau bercerita tentang panggilan kekerabatan bagi seorang nenek yang terasa begitu indah. Yang seumuran dengan beliau, sudahkah Anda memiliki cucu? Jika belum, semoga suatu saat Allah akan memberikan kebahagiaan yang sama seperti dirasakan bu Yuli.
Baca Juga: Catatan pada Hari Valentine
Indahnya Kata “Mbah”
“Mbah…Mbah…” itulah kata yang baru bisa diucapkan dengan jelas oleh cucuku yang baru belajar berbicara. Kata yang selalu kutunggu-tunggu ketika sedang kangen dan video call dengan anakku di Jawa.
Kata “mbah“ tidak asing di telinga orang Jawa yang artinya nenek. Kalau di Sumatera dipanggil “Nek No dan Nek Nang”. Mbah itu untuk tambah-tambah, mbok untuk tombok-tombok. Maksudnya untuk menambahi kekurangan kebutuhan anak.
Saya kadang tersenyum-senyum sendiri, teringat kata-kata “Cung kediro tambah cucung tambah saro“ yang artinya kurang lebih seperti ini: Dengan bertambahnya cucu, kita akan semakin repot/susah. Memang kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Dengan bertambahnya cucu, akan menambah kerepotan/kegiatan kita. Namun, ada rasa bahagia tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hal ini bisa saya rasakan ketika PakDsus, teman saya, mendapatkan anugerah cucu pertama, seorang bidadari cantik yang diberi nama “Cahayu Eka Putri” bulan Januari lalu. PakDSus mengenalkan dirinya dengan sebutan Eyang.
Bulan berikutnya, keluarga Pak Supratman yang mendapatkan cucu pertama, cucu laki-laki. Bulan-bulan berikutnya akan menyusul, keluarga Pak Ibnu Salimi dan Pak Misdi yang akan mendapatkan cucu. Mereka para sahabat saya dari anggota IKAS Manunggal. IKAS Manunggal adalah sebauh grup singkatan dari Ikatan Keluarga Alumni Solo Manunggal.
Di antara anggota grup, sayalah yang pertama kali dipanggil mbah. Cucu saya sudah 2, laki-laki semua. Yang pertama sudah berusia 9 tahun, adiknya baru akan 2 tahun bulan April nanti.
“Mbah…, Mbah…,” kata itu kudengar lagi ketika saya memasuki bus.
Cucuku memanggilku sambil menangis ketika saya akan kembali ke Sumatera. Liburan bulan Desember kemarin, saya menyempatkan berlibur ke Jawa melepas rindu dengan anak cucu. Walau hanya seminggu, alhamdulillah bisa bertemu dan bercanda bersama. Karena banyak kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, saya pun harus kembali. Dengan tidak bisa menahan air mata. Dalam hati saya berkata, “Nanti Mbah ke sini lagi ya, Nang, kalau libur.”
Mobil pun perlahan-lahan meninggalkan kota Solo menuju Sumatera.
17 Februari 2024
Penulis: Siti Yulianti
Editor: PakDSus
#GPLM
#FebruariGambarBicara


Leave a reply to Sri Maryati Cancel reply